waduk mrica banjarnegara

Wisata Waduk Mrica, Banjarnegara, Jawa Tengah

Waduk Mrica atau dikenal juga sebagai Bendungan Panglima Besar Jendral Soedirman, terletak sekitar 9 km barat kota Banjarnegara, Jawa Tengah.

Waduk Mrica sejatinya difungsikan sebagai sarana pembangkit listrik tenaga air yang melayani area Jawa dan Bali. Listrik yang dihasilkan dari waduk ini mencapai 184,5 MW.
Waduk Mrica merupakan waduk buatan dengan membendung sungai Serayu yang melintasi wilayah Banjarnegara. Bendungan Waduk Mrica mempunyai panjang 6,5 Km dan luas 1.250 Ha, menjadikannya sebagai bendungan terpanjang di Asia Tenggara. Bendungan sebesar ini dihasilkan dengan menenggelamkan 32 desa di 7 kecamatan yang ada disekitar aliran sungai Serayu Banjarnegara.
Waduk Mrica yang penggunaannya diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tahun 1989 ini, tidak hanya berfungsi sebagai PLTA, tetapi lebih luas lagi untuk kemanfaatan para petani sebagai sarana menstabilkan aliran air irigasi menuju sawah-sawah yang terbentang di wilayah Banjarnegara.
Di Area Waduk Mrica juga dikembangkan sebagai lahan rekreasi yang dikemas dengan beragam fasilitas, mulai dari wisata air (perahu motor, dayung dan memancing), Arena bermainan Anak, Panggung pertunjukkan terbuka, juga terdapat Padang Golf dengan 8 holenya. Bahkan di aliran sungai bagian hulu terdapat wisata yang bisa memacu adrenalin yaitu Arung Jeram. Lintasan arung Jeram diawali dari Desa Tunggoro menuju Desa Singomerto, Kecamatan Sigaluh dengan panjang rute sekitar 12 Km.
Suasana di lokasi wisata waduk Mrica cukup sejuk, karena banyak ditumbuhi pohon-pohon yang rindang. Pemandangan waduk juga sangat mempesona, seolah sedang berada di pinggir pantai, hamparan airnya sangat luas ujung waduk nyaris tidak nampak. Dihari biasa tidak terlalu ramai, nyaris sepi, makanya banyak menjadi pilihan bagi anak muda yang sedang dimabuk asmara, katanya sekedar mendapatkan suasana romantis.
Kuliner khas Banjarnegara juga bisa dinikmati di area wisata ini, Es Dawet Ayu dan bakso biasanya menjadi pilihan pengunjung, untuk camilannya tempe mendoan hangat sangat nikmat. Ada juga serabi, makanan ini sangat khas karena bahan dan pembuatan masih sangat tradisional, sehingga menyuguhkan rasa original.
Untuk menjangkau lokasi wisata ini sangat mudah aksesnya, karena pintu masuk berada dijalur utama jalan raya di kabupaten Banjarnegara.
Dari pusat kota Banjarnegara sekitar 9 km kearah barat menuju Kota Purwokerto/Banyumas. Tiket masuknya juga sangat murah, hanya Rp. 2000 /orang. Tertarik?!

obyek wisata banjarnegara

Wisata Banjarnegara, Dari Pegunungan Sampai Sungai

 

Apa yang terlintas di benak anda ketika mendengar tentang Banjarnegara. Pikiran anda pasti tak akan jauh-jauh dari dawet ayu dan Waduk Mrica. Ya, dua hal itulah yang menjadi icon dari Kabupaten yang berada di sisi tengah Provinsi Jawa Tengah tersebut.

Wilayah kabupaten Banjarnegara cukup luas. Terdiri dari perbukitan serta dataran rendah di tepi sungai serayu. Membuat kabupaten ini dikaruniai potensi wisata yang cukup bagus. Potensi wisata itu tersebar dari tepi sungai serayu di Susukan hingga di puncak pegunungan yaitu Dieng.

Selain dua hal yang telah disebutkan di depan, Banjarnegara memiliki berbagai macam produk wisata lainnya. Dari yang natural (alam), sosial budaya, hingga yang man made atau buatan manusia. Ketiganya menjadi kolaborasi unik yang menjadi wajah dari wisata Banjarnegara. Yang tidak dimiliki Banjarnegara hanya pantai. Seperti yang dikatakan Pak Bambang Sugiarto, S.Pd, M.Pd selaku sekretaris Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banjarnegara, “mungkin yang tidak dimiliki oleh Banjar cuma pantai ya”, ujarnya.

Wisata alam yang menjadi unggulan dan paling berpotensi di Banjarnegara ialah dataran tinggi Dieng. Mungkin banyak dari anda yang menyangka Dieng terletak di Wonosobo. Memang tidak salah, tapi sebagian wilayah dataran tinggi Dieng juga berada di Banjarnegara. Terletak sekitar 58 km dari pusat Kota Banjarnegara, kawasan ini dapat ditempuh sekitar 1 jam perjalanan menggunakan kendaraan bermotor.

Dieng merupakan daerah yang kaya dengan peninggalan sejarah, peninggalan purbakala, serta pemandangan alam yang begitu mempesona. Udara yang masih sejuk menyegarkan siapa saja yang mengunjunginya. Dieng berada di ketinggian sekitar 2000 meter di atas permukaan laut. Memiliki hawa sejuk dengan suhu rata-rata 13-17 derajat celcius, bahkan pada bulan Juli sampai Agustus suhu udara bisa dibawah 0 derajat celcius. Sehingga terkadang pada bulan itu turun salju atau hujan es dengan ketebalan sampai 5 cm. Kawsn wisata di Dieng tersebar seluas 50 kilometer persegi.

Kawasan dieng memiliki banyak obek wisata yang menarik untuk dikunjungi. Objek wisata utama di kawasan Dieng adalah kompleks candi Arjuna. Kompleks ini terdiri dari lima buah candi yang berderet dari utara ke selatan. Di tiap candi ini digambarkan dewa-dewa pendamping Siwa di tiap relungnya. Latar belakang kompleks Candi Arjuna begitu indah dengan dihiasi hamparan tubuhan dan langit biru. Kompleks candi di Dieng ialah peninggalan agama Hindu, karena dulunya kawasan Dieng merupakan bagian dari kerajaan Mataram Kuno.

Candi-candi lain selain arjuna antara lain Candi Bima, Candi Gatotkaca, dan Candi Dwarawati. Candi Bima dibangun dengan arsitektur dengan arsitektur bergaya India. Di tiap tingkatan atap terdapat hiasan yang disebut “arca kudu”. Merupakan candi tertinggi dan terbesar dikawasan dataran tinggi Dieng sekaligus dianggap paling bertuah. Sementara candi Gatotkaca terletak di kaki bukit Pangonan. Memiliki kala yang khas berupa wajah raksas yang menyeringai tanpa rahang bawah, dan makara yang distilior menjadi ukiran sulur-sulur. Candi yang lain adalah candi Dwarawati yang terletak paing utar diantaraa candi-candi lain. Didirikan di atas bukit perahu. Candi ini mudah dikunjungi dalam perjann kembali dari Candi Bima.

Selain kompleks candi, ada beberapa kawah yang memiliki karakteristik yang cukup unik. Salah satunya adalah kawah sikidang, yang terletak tak jauh dari kompleks candi arjuna. Kawah Sikidang memiliki karakteristik yang sangat unik karena lubang kepundannya bisa berpindah ke tempat lain seperti seekor kijang. Itulah mengapa dinamakan Sikidang. Kawah ini cukup aman dikunjungi dari jarak dekat atau bahkan dari bibir kawah sekalipun. Kawah lainnya ialah Sileri, air sari kawh ini berwarna putih susu seperti leri (air cucian beras), sehingga diberi nama sileri. Selain kedua kawah diatsas, adal lagi kawah Candradimuka. Kawah ini terjadi karena letusan gunung Pagerkandang dan menyebabkan tanah di sekitar lereng ginung merekah. Kawah ini dianggap bertuah sehingga setiap 1 Suro dipakai tempat prosesi ruwatan. Ada satu lagi objek wisata yang serupa dengan kawah, yaitu Sumur Jalatunda. Tempat ini merupakan kepundan gunung berapi yang meletus dan akhirnya menjadi sumur dengan kedalaman 100 meter.

Obyek lain yang dapat dikunjungi adalah Telaga Merdada dan Telaga Balekambang. Merdada merupakan bekas kepundan yang berisi air, sekaigus telaga terluas di Dieng. Airnya sangt jernih dan warna birunya sangat mempesona. Sementara bagi anda yang hobi memancing, Telaga Baekambang adalah tempat yang wajib anda kunjungi. Disini terdapat berbagai macam jenis ikan air tawar. Telaga ini merupakn bekas letusan gunung Dieng beribu tahun lalu.

Selain itu, ada pula museum Kaliasa yang baru diresmikan sekitar tahun lalu. “Museum kaliasa menyimpan banyak peninggalan purbakala yang sangat berharga”, kata Pak Bambang. Selain benda purbakala, museum ini juga menampilkan film dokumenter tentang sejarah Kabupaten Banjarnegara.

Dataran Tinggi Dieng menjadi tujuan wisata yang menarik bagi banyak orang. Banyak wisatawan asing yang datng berkunjung ke Dieng karena terpesona dengan keindahan alamnya dan udara yang sejuk. Ada salah satu fenomena menarik yang terjadi di Dieng, yaitu adanya anak-anak yang berambut gimbal yang sering disebut “anak gembel dieng”. Anak ini dianggap sebagai titipan dewa sehingga orang tua diyakini belum mempunyai hak atas diri mereka sebelum melakukan proses ruwatan

Wisata alam di Banjarnegara tak hanya Dieng saja. Bergeser sekitar 10 km dari pusat kota, ada lagi kekayan alam yang tak kalah mempesona dari Dieng, yaitu Curug Pitu. Kenapa dinamakan Curug Pitu, karena air terjun disini memiliki tujuh tingkatan, yang dalam bahasa jawa tujuh adalah pitu. Dengan sekitar 20 menit perjalanan, anda sudah sampai di tempat ini. Fasilitas yang tersedia di Curug Pitu antara lain gardu pandang, jalan setapak, bumi perkemahan dan panggung terbuka.

Selain memiliki kekayaan alam yang sangat menakjubkan, Banjarnegara juga memiliki obyek wisata sosial budaya. Diantaranya tari-tarian, kerajinan, dan makanan khas. Tari-tarian asli Banjarnegara cukup banyak yang sudah digali dan dikembangkan. Seperti Tari Jepin dari Wanayasa, tari Aplang dari Kaliwungu, Mandiraja. Tari-tari ini dulunya monoton, tapi setelah dimodifikasi sedemikian rupa, tari-tarian ini memiliki nilai jual dan menarik untuk ditonton.

Bahkan belum lama ini, tari Aplang dan Tari jepin diikutsertakan dalam Festival Kesenian Tradisional Tingkat Provinsi Jawa Tengah di Borobudur. Dan berhasil memperoleh beberapa penghargaan. Tari Jepin merebut juara 3 dan pengiringnya juara 1. Tari Aplang menggondol Juara 1, sementara kesenian lainnya yang diikutsertakan pula yaitu Kuda Lumping berhasil meraih Juara 1 dan 2. Selain itu pad 18 Oktober lalu Tari Aplang dan Tari Jepin mengikuti Pentas Seni Nusantara di Taman Mini Indonesia Indah. Selain kedua tari diatas, ditampilkan pula Tari Gambyong, Dalang Jemblung dan Tari Dawet Ayu.

Dengan keberhasilan yang telah diraih diatas, kesenian tersebut bisa memilii nilai jual yang lebih tinggi. Dan bisa dikembangkan sebagi aset wisata yang berharga. Dengan kemasaan yang lebih baik maka akan menarik minat wisatawan untuk melihat kesenian tersebut.

Kesenian lain selain tari ialah kerajinan Batik. Kerajinan Batik di Banjarnegara terletak di Kecamatan Susukan, tepatnya di Desa Gumelem. Mungkin tak banyak yang tahu mengenai kerajinan batik ini. Kerajinan batik Gumelem sedang dalam tahap perkembangan menjadi desa wisata. Kerajinan batik gumelem merupakan home industri dan merupakan binaan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Batik gumelem masih menggunakan teknik tulis, belum menggunakan teknik cap. Sehingga mutu dan kualitasnya cukup terjamin. Jika anda ingin membeli batik dengan corak khas, mampirlah ke Gumelem.

Produk sosial budaya yang lain adalah makanan khas. Yang paling khas dan dikenal orang banyak sudah pasti Dawet Ayu Banjarnegara. Minuman ini gampang sekali ditemukan di seluruh penjuru Banjarnegara. Dengan rasa yang khas dan hanya ada di Banjarnegara, minuman ini seolah menjadi trade mark dari Banjarnegara. Jenis makanan khas lainnya padahal masih banyak, seperti Jus jambu Merah, Salak Pondoh, Keripik Jamur, Carica, dan Purwaceng.

Sentra produksi salak pondoh terdapat di kecamatan Madukara dan Kecamatan Sigaluh. Salak pondoh Banjarnegara kualitasnya sangat baik dan sudah diakui oleh banyak orang. Carica dan Purwaceng adalah produk asli Dieng dan hanya ada di Dieng, tidak ada di tempat lain. Carica berbentuk manisan, bahan dasarnya adalah buah carica seperti papaya hanya lebih kecil, sebesar belimbing, biasanya dikemas dalam bentuk botol.

Purwaceng merupakan obat untuk memulihkan dan memacu energi, hanya ada dan dijual di Dieng saja. Bahannya berasal dari tumbuhan alami, biasanya dibuat dalam bentuk serbuk. Minuman inimenjadi trade mark Dieng. Jika berkunjung ke Dieng tanpa membawa purwaceng sebagai oleh-oleh, nampaknya kurang afdol.

Sementara untuk obyek wisata buatan manusia, Banjarnegara memiliki tiga obyek wisata. Yang pertama dan menjadi unggulan adalah Taman Rekreasi Margasatwa Serulingmas, lalu Waduk Mrica dan terakhir ialah Anglir Mendung.

Taman Rekreasi Margasatwa Serulingmas terletak tak jauh dari kota Banjarnegara. Hanya 5 menit waktu yang dibutuhkan untuk mencapainya. Serulingmas berdiri sekitar tahun 1998, dan sudah sebelas tahun menjadi kebanggaan Banjarnegara. Serulingmas merupkan satu-satunya kebun binatang di Jawa Tengah yang memilik ijin resmi dari pemerintah. Tempat ini sudah masuk lembaga konservasi untuk pemberdayaan satwa langka. Serulingmas merupakan tempat rekreasi yang menarik denga aneka satwa antara lain Singa Afrika, Harimau Benggala, Buaya, Gajah, Orang Utan, Rusa , Kanguru serta berbagai jenis burung dan kera. Perpaduan harmonis flora dan fauna menjadikan tempat ini sebagai tempat rekreasi keluarga yang nyaman, sejuk dan dapat dijadikan sebagai sarana pendidikan. Terdapat pula jenis permainan anak, panggung terbuka, kolam renang dengan standard internasional serta fasilitas outbond. Tiap bulan, banyak pengunjung terutama dari luar daerah yang berwisata ke TRMS Serulingmas.

Waduk Mrica merupakan waduk terpanjang di Asia Tenggara. Waduk ini membendung Sungai Serayu dan menjadi pembangkit listrik bagi Jawa dan mempunyai daya kapasitas tenag listrik mencapai 184, 5 Mega Watt. Obyek wisata waduk mrica menawarkan berbagai paket wisata air seperti berperahu mengelilingi waduk, olahraga dayung maupun memancing. Tersedia pula arena permainan anak, panggung terbuka, dan padang golf dengan 8 hole. Hany sayang, saat ini waduk seakan tak menarik lagi bagi sebagian besar masyarakat, sehingga waduk mrica lambat berkembang.

Sementara Anglir Mendung terletak sekitar 18 km dari kota Banjarnegara. Daerah beriklim sejuk ini dikelilingi hutan lindung yang dapat dijadikan wisat m berburu dan cross country. Fasilitas yang tersedia antara lain kolam renang jernih dengan mata air asli pegunungan, taman bermain anak-anak, penginapan remaja, dan bumi perkemahan yang dapat menampung 200 tenda. Jalan menuju kawasan ini berkelok-kelok dengan keindahan panorama alam berupa bukit, sawah, sungai dan hutan.

Selain produk alam, social budaya, dan buatan manusia, di Banjarnegara ada satu lagi obyek wisata yang disebut obyek wisata peminat khusus yaitu arung jeram di Sungai Serayu, yang dinamakan Serayu Adventure Indonesia. Berawaal dari sekedar hobi, sekelompok anak muda yang sangat tertarik dengan dunia petualangan arung jeram, outbond dan camping akhirnya mencoba mengembangkan dan mengelolanya sebagai suatu usaha professional. Wisata olahraga arung jeram terletak di Sungai Serayu dan memebelah wilayah Kabupaten Banjarnegara sepanjang 12 km. Basecamp terdapat di Desa Singomerto, kecamatan Sigaluh. Biasanya start dimulai dari Desa Tunggoro, menuju ke Desa Singomerto. Tersedia berbagai peket jeram yang bervariasi tergantung dari jarak yang ditempuh. Fasilitas yang disediakan antara lain welcome drink, konsumsi, guide, sertifikat, asuransi dan perlengkapan arung jeram.

Jeram Sungai Serayu memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi. Grade kesulitan jeramnya mencapai 3+. Wisata Arung jeram sungai Serayu mendapat perhatian yang cukup baik dari wisatawan. Karena keunggulannya Serayu pernah didaulat oleh pemerintah sebagai lokasi Kejuaraan Arum Jeram Nasional pada tahun 1997 dan Kejuaraan Nasional pada tahun 2007. Dengan tingkat kesulitan yang dimiliki, Serayu berprestasi sebagai sebagai pemilik arus jeram terbaik diantara sungai-sungai yang ada di Jawa Tengah.

Bahkan pada tahun 2010, Serayu menjadi tuan rumah dalam kejuaraan arung jeram tingkat dunia bertajuk Australiasian Champ 2010. Yang berlangsung pada April lalu. Semua produk wista diatas baru sebagian saja yang ada di banjarnegara. Masih banyak obyek wisata lain yang cukup potensial, namun belum dikembangkan secara maksimal. Untuk mendukungnya diperlukan komitmen dari semua pihak yang terlibat dalam dunia pariwisata.

Itulah sebagian gambaran mengenai dunia pariwisata di kabupaten Banjarnegara. Bagi anda yang menyukai keindahan alam, bisa berkunjung ke Dieng atau Curug Pitu. Sementara penyuka kesenian bisa menjatuhkan pilihannya pada wisata kesenian seperti tarian dan batik. Untuk anda yang berjiwa petualang dan menginginkan pompaan adrenalin tingkat tinggi, jangan lewatkan Arung Jeram Sungai Serayu. So, enjoy it.

SEJARAH BANJARNEGARA

I. Kyai Ageng Maliu Pendiri Desa Banjar

Dalam riwayat berdirinya Kabupaten Banjarnegara disebutkan bahwa seorang tokoh masyarakat yang bernama Kyai Maliu sangat tertarik akan keindahan alam di sekitar Kali Merawu sebelah selatan jembatan Clangap (sekarang). Keindahan tersebut antara lain karena tanahnya berundak, berbanjar sepanjang kali.

Sejak saat itu, Kyai Maliu kemudian mendirikan pondok/rumah sebagai tempat tinggalnya yang baru. Setelah Kyai Maliu tinggal di tempat barunya tersebut, dalam waktu singkat disusul pula dengan berdirinya rumah-rumah penduduk yang lain disekitar pondok Kyai Maliu sehingga kemudian membentuk suatu perkampungan. Perkampungan tersebut terus berkembang waktu demi waktu yang akhirnya menjadi sebuah desa.

Desa baru tersebut kemudian dinamakan “BANJAR” sesuai dengan daerahnya yang berupa sawah yang berpetak-petak. Atas dasar musyawarah penduduk desa baru tersebut Kyai Maliu diangkat menjadi Pertinggi (Kepala Desa), sehingga kemudian dikenal dengan nama “Kyai Ageng Maliu Pertinggi Banjar”.

Keramaian dan kemajuan desa Banjar dibawah kepemimpinan Kyai Ageng Maliu semakin pesat tatkala kedatangan Kanjeng Pangeran Giri Wasiat, Panembahan Giri Pit dan Nyai Sekati yang sedang mengembara dalam rangka syiar agama Islam. Ketiganya merupakan putra Sunan Giri, raja di Giri Gajah Gresik yang bergelar Prabu Satmoko.

Sejak kedatangan Pangeran Giri Pit, Desa Banjar menjadi pusat pengembangan agama Islam. Kyai Ageng Maliu semakin bertambah kemampuannya dalam hal agama Islam dan dalam memimpin Desa Banjar. Karena kepemimpinannya itulah Desa Banjar semakin berkembang dan semakin ramai.

Desa Banjar yang didirikan oleh Kyai Ageng Maliu inilah pada akhirnya menjadi cikal bakal Kabupaten Banjarnegara.

II.     Awal Pemerintahan Kabupaten Banjarnegara

Setelah wafatnya Adipati Wargo Hutomo I (Adipati Wirasaba) dalam perjalanan pulang setelah menghadap Sultan Hadiwijoyo (Sultan Pajang) akibat adanya kesalahpahaman Utusan (Gandek) dari Kerajaan Pajang dalam mengartikan perintah Sultan Hadiwijoyo yang diperkuat dengan fitnah Demang Toyareka (Adik Adipati Wargo Hutomo), pucuk pimpinan Kabupaten Wirasaba mengalami kekosongan. Untuk selanjutnya Kabupaten Wirasaba dipimpin oleh Patih yang telah mewakili Adipati sejak menghadap Sultan.

Para Putra Adipati tidak ada yang berani menggantikan kedudukan ayahnya sebelum mendapat ijin dari Kanjeng Sultan Hadiwijoyo di Pajang.

Menyadari kesalahannya yang menyebabkan wafatnya Adipati Wargo Hutomo I, Sultan Hadiwijoyo mengutus Tumenggung Tambakbaya mengirimkan surat kepada Keluarga Adipati Wargo Hutomo I di Wirasaba yang isinya mengharapkan kehadiran salah satu putra Adipati Wargo Hutomo I untuk menghadap Sultan. Namun demikian tidak satupun dari putra Adipati Wargo Hutomo I yang bersedia menghadap Kanjeng Sultan Hadi Wijoyo. Hal ini dikarenakan disamping duka akibat peristiwa terbunuhnya ayahandanya belum sepenuhnya hilang, muncul pula perasaan khawatir bilamana ternyata mendapat perlakuan serupa.

Akhirnya Tumenggung Tambakbaya meminta Joko Kaiman (menantu Adipati) untuk memenuhi panggilan Sultan menghadap ke Pajang. Atas persetujuan Saudara-saudara iparnya, berangkatlah Joko Kaiman menghadap Sultan Hadiwijoyo di Pajang.

Sesampainya di Pajang, Sultan menjelaskan duduk permasalahan hingga Adipati Wargo Hutomo terbunuh dan menyampaikan permohonan maaf kepada semua putra Adipati dan masyarakat Wirasaba. Dalam kesempatan itu pula, Sultan Hadiwijoyo mengangkat Joko Kaiman menjadi Bupati Wirasaba menggantikan Adipati Wargo Hutomo I, yang kemudian bergelar Adipati Wargo Hutomo II.

Menyadari statusnya hanya sebagai putra menantu, maka demi menjaga keutuhan keluarga, setelah diangkat menjadi Bupati, Joko Kaiman (Wargo Hutomo II) mengeluarkan kebijakan yaitu membagi Kabupaten Wirasaba menjadi 4 (empat) Kabupaten Kecil untuk saudara-saudara iparnya, yaitu :

  1. Kabupaten Wirasaba diserahkan kepada Kyai Ngabei Wargo Wijoyo ;
  2. Kabupaten Merden, deserahkan kepada Kyai Ngabei Wiro Kusumo ;
  3. Kabupaten Banjar Petambakan kepada Kyai Ngabei Wiroyudo;
  4. Kabupaten Banyumas di Daerah Kejawar dipimpin sendiri oleh Wargo Hutomo II.

Kebijakan ini disetujui semua saudara iparnya dan mendapatkan ijin dari Sultan Pajang. Karena kebijakannya membagi Daerah Kabupaten Wirasaba menjadi 4 (empat) Kabupaten tersebut, Kyai Adipati Wargo Hutomo II mendapat julukan Adipati Mrapat.

Peristiwa tersebut merupakan awal adanya pemerintahan Kabupaten Banjar Petambakan, cikal bakal Kabupaten Banjarnegara.

  1. Kabupaten Banjar Petambakan

Kyai Ngabehi Wiroyudo merupakan Bupati Banjar Petambakan pertama yang memerintah pada ± Tahun 1582 (melihat pendirian Pendopo Kabupaten Banyumas di Kejawar oleh Wargo Hutomo II, yang merupakan salah satu pecahan dari Kabupaten Wirasaba tercatat tahun 1582).

Namun siapa pengganti Kyai Ngabei Wiroyudo sampai R. Ngabehi Banyakwide diangkat sebagai Kliwon Banyumas yang bermukim di Banjar Petambakan tidak diketahui, karena tidak ada/belum ditemukan sumber/ catatan tertulis. Ada kemungkinan Kabupaten Banjar Petambakan dibawah Kyai Ngabei Wiroyudo tidak berkembang (tidak lestari) seperti halnya Kabupaten Merden yang diperintah R. Ngabei Wargawijaya dan Kabupaten Wirasaba yang diperintah oleh R. Ngabei Wirakusuma. Tidak demikian halnya halnya dengan Kabupaten Banyumas (Daerah Kejawar) dibawah pemerintahan R. Adipati Wargo Hutomo II yang dapat bertahan dan terus berkembang.

R. Banyakwide adalah putra R. Tumenggung Mertoyudo (Bupati Banyumas ke 4). Dari sini terlihat bahwa selama 3 (tiga) periode kepemimpinan Bupati di Kabupaten Banyumas (setelah Wargo Hutomo II) sampai dengan Bupati ke 4 (R.T. Mertoyudo), Kabupaten Banjar Petambakan tidak tercatat ada yang memerintah.

Karena cukup lama tidak ada yang memerintah, maka setelah diangkatnya R. Banyakwide sebagai Kliwon Banyumas tetapi bermukim di Banjar Petambakan, ada yang menyebut Banyakwide adalah Bupati Banjar Petambakan Pertama setelah Pemerintahan Ngabehi Wiroyudo.

R. Banyak Wide mempunyai 4 (empat) putera, yaitu:

  1. Kyai Ngabei Mangunyudo;
  2. R. Kenthol Kertoyudo;
  3. R. Bagus Brata;
  4. Mas Ajeng Basiah.

Sepeninggal R. Banyakwide Kabupaten Banjar Petambakan diperintah oleh R. Ngabei Mangunyudo I yang kemudian dikenal dengan julukan Hadipati Mangunyudo Sedo Loji (Benteng), karena beliau gugur di loji saat perang melawan Belanda di Kartosuro.

Kebenciannya terhadap Belanda ditunjukkan sewaktu ada geger perang Pracino (pecinan) yaitu pemberontakan oleh bangsa Tionghoa kepada VOC saat Mataram dipimpin Paku Buwono II.

R. Ngabehi Mangunyudo I sebagai Bupati manca minta ijin untuk menghancurkan Loji VOC di Kartasura. Paku Buwono II mengijinkanya dengan satu permintaan agar R. Ng. Mangunyudo tidak membunuh pasangan suami istri orang belanda yang berada di loji paling atas.

Akhirnya perang sengitpun terjadi antara pajurit Mangunyudo I dengan pasukan VOC (tahun 1743). Melihat prajuritnya banyak yang tewas, Adipati Mangunyudo I sangat marah, seluruh penghuni loji dibunuhnya, bahkan beliau lupa pesan Sri Susuhunan Pakubuwono II. Melihat masih ada orang Belanda yang masih hidup di bagian paling atas Loji, R. Mangunyudo I mengejarnya dan berusaha membunuh pasangan suami istri orang Belanda, yang sebenarnya adalah Pakubuwono II dan Permaisuri yang sedang menyamar. Merasa terancam jiwanya, Pakubuwono II akhirnya membunuh Adipati Mangunyudo I yang sedang kalap di Loji VOC tersebut. Sebab itulah kemudian Adipati Mangunyudo I dikenal dengan sebutan Adipati Mangunyudo Sedo Loji.

  1. Kabupaten Banjar Watu Lembu
    1. a. Berdasarkan sumber/buku “Inti Silsilah dan Sejarah Banyumas”

Setelah Adipati Mangunyudo I wafat, disebutkan bahwa pengganti Bupati Banjar Petambakan adalah puteranya yang bergelar R. Ngabei Mangunyudo II, yang dikenal dengan R. Ngabei Mangunyudo Sedo Mukti.

Di era kepemimpinannya, Kabupaten dipindahkan ke sebelah Barat Sungai Merawu dengan nama Kabupaten Banjar Watu Lembu (Banjar Selo Lembu).

R. Ngabei Mangunyudo II merupakan Bupati Banjar Watu Lembu Pertama, yang kemudian digantikan oleh puteranya, bergelar Kyai R. Ngabei Mangunyudo III yang kemudian berganti nama menjadi Kyai R. Ngabei Mangunbroto, Bupati Anom Banjar Selolembu. Masih dari sumber yang sama, R. Ngabei Mangunbroto wafat karena bunuh diri.

Penggantinya adalah R.T. Mangunsubroto yang memerintah Kabupaten Banjar Watulembu sampai tahun 1931.

Karena Kabupaten Banjar Watulembu sangat antipati terhadap Belanda, maka setelah perang Diponegoro dimana kemenangan dipihak Belanda, Kabupaten Banjar Watulembu diturunkan statusnya menjadi Distrik dengan dua penguasa yaitu R. Ngabei Mangunsubroto dan R. Ng. Ranudirejo.

  1. Berdasarkan sumber “Register Sarasilah Keturunan R. Ngabei Banyakwide dan Register Catatan Legenda Riwayat Kanjeng Sunan Giri Wasiyat, Kyai Panembahan Giri Pit, Nyai Ageng Sekati”

Dalam sumber tersebut disebutkan bahwa yang menggantikan Mangunyudo I adalah R. Ngabehi Kenthol Kertoyudo yang kemudian bergelar R. Ngabei Mangunyudo II. Dalam perang Diponegoro lebih dikenal dengan R. Tumenggung Kertonegoro III atau Mangunyudo Mukti.

Pada masa pemerintahannya, Kabupaten dipindahkan ke sebelah Barat Sungai Merawu dan kemudian dinamakan Kabupaten “Banjar Watulembu”.

Sikap Adipati Mangunyudo II yang sangat anti terhadap Belanda dan bahkan turut memperkuat pasukan Diponegoro dalam perang melawan Belanda (dimana perang tersebut berakhir dengan kemenangan di pihak Belanda), berakibat R. Ngabei Mangunyudo II dipecat sebagai Bupati Banjar Watulembu, dan pada saat itu pula  status Kabupaten Banjar Watulembu diturunkan menjadi Distrik dengan dua penguasa yaitu R. Ngabei Mangun Broto dan R. Ngabei Ranudirejo.

Terlepas sumber mana yang benar, para pemimpin/ Bupati Banjar mulai Mangunyudo I sampai yang terakhir Mangunsubroto atau Mangunyudo II, semuanya anti penjajah Belanda.

  1. Kabupaten Banjarnegara

Karena selama perang Diponegoro dapat mengatasi pasukan Pangeran Diponegoro yang dibantu oleh pasukan dari Kabupaten Banjarwatulembu dan dianggap berjasa kepada Kerajaan Mataram (pada waktu itu terdapat ikatan perjanjian dengan Belanda), Raden Tumenggung Dipoyudho IV yang pernah menjabat Ngabei di Purbolinggo dan kemudian diangkat menjadi Tumenggung Ayah selama 25 tahun, oleh Belanda diusulkan kepada Sri Susuhunan Paku Buwana VII untuk ditetapkan menjadi Bupati Banjar (Banjar Watulembu).

Setelah mendapat ijin, maka berdasarkan Resolutie Governeur General Buitenzorg tanggal 22 Agustus 1831 Nomor I, maka Raden Tumenggung Dipoyudho IV resmi menjabat Bupati Banjar Watulembu.

Beberapa saat setelah pengangkatannya, Raden Tumenggung Dipoyudho IV meminta ijin kepada Paku Buwana VII di Kasunanan Surakarta untuk memindahkan kota kabupaten ke sebelah selatan Sungai Serayu. Setelah permintaan tersebut dikabulkan, maka dimulailah pembangunan kota kabupaten yang semula berupa daerah persawahan.

Untuk mengenang asal mula Kota Kabupaten baru yang berupa persawahan dan telah dibangun menjadi kota, oleh Raden Tumenggung Dipoyudho IV, Kabupaten Baru tersebut diberi nama “BANJARNEGARA” (mempunyai maksud Sawah = Banjar, berubah menjadi kota = negara) sampai sekarang.

Setelah segala sesuatunya siap, Raden Tumenggung Dipoyudo IV sebagai Bupati beserta semua pegawai Kabupaten pindah dari Banjar Watulembu ke Kota Kabupaten yang baru Banjarnegara.

Dikarenakan  pada saat pengangkatannya status Kabupaten Banjar Watulembu yang terdahulu telah dihapus, maka Raden Tumenggung Dipoyudho IV dikenal sebagai Bupati Banjarnegara I (Pertama).

Peristiwa Pengangkatan Raden Tumenggung Dipoyudho IV pada tanggal 22 Agustus 1831 sebagai Bupati Banjarnegara inilah yang dijadikan dasar untuk menetapkan Hari Jadi Kabupaten Banjarnegara, yaitu dengan Keputusan DPRD Kabupaten Dati II Banjarnegara tanggal 1 Juli 1981 dan Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Banjarnegara Nomor 3 Tahun 1994 Tentang Hari Jadi Kabupaten Banjarnegara.

  1. Para Bupati yang Telah Berjasa Dalam Pembangunan Kabupaten Banjarnegara

I)    1. Nama / Gelar        :  K.R.T. Dipoyudho IV

2. Masa Jabatan        : 1831 – 1846

3. Riwayat singkat    :  ketika kecil bernama Kadirman, kemudian menjadi Mantri Anom dan oleh Kanjeng Susuhunan Paku Buwana IV dianugerahi nama Atmo Sukaryo. Sebelum menjadi Bupati Banjarnegara pernah diangkat menjadi Ngabei di Purbolinggo selama 3 tahun, bergelar Dipoyudho IV selanjutnya diangkat menjadi Bupati Ayah selama 25 tahun.

II)   1. Nama/Gelar          :  K.R.T.  Dipodiningrat

2. Masa Jabatan        :  1846 – 1878

3. Riwayat singkat    :  Putra R.T. Dhipoyudo IV Wafat tahun 1878 dan dimakamkan di belakang Masjid Agung Banjarnegara.

III)  1. Nama/Gelar          :  K.R.T. Joyonegoro I

2. Masa Jabatan        :  1878 – 1896

3. Riwayat singkat    :  Putra R.T. Kalapaking,  Bupati Panjer yang waktu muda bernama R. Atmodipura. Sebelumnya pernah menjabat Patih Purworejo. Dari Pemerintah Belanda mendapat Ganjaran pangkat “Adipati” dan Bintang Mas. Wafat Tahun 1896, dimakamkan di Kuwondo Giri (Blambangan, Banjarnegara).

IV)  1. Nama/Gelar          : K.R.T. Joyonegoro II

2. Masa Jabatan        : 1896 – 1927

3. Riwatyat singkat   :  Putra R.T. Joyonegoro I, waktu muda bernama R.M. Joyomiseno Pernah menjabat Wedana Singamerta. Dari Pemerintah Belanda mendapat Ganjaran  pangkat “Adipati Arya”, Payung emas, Bintang Emas Besar Officer Oranye. Pensiun pada tahun 1927.

V)   1. Nama/Gelar          :  Kanjeng Raden Adipati Ario Sumitra Kalapaking Purbonegoro

2. Masa Jabatan        :  1927 – 1949

3. Riwayat singkat    :  Mendapat anugerah dari Pemerintah Belanda “Tumenggung Aria”. Beliau mengalami tiga peralihan kekuasaan : Belanda, Jepang dan Republik Indonesia dengan tiga sebutan pula : Kanjeng Gusti Bupati, Bandara Ken- Cho, dan Bapak Bupati.

VI)      1. Nama/Gelar          :  Raden Sumarto

2. Masa Jabatan        : 1949 – 1959

3. Riwayat singkat    :  Menjabat Bupati Kepala Daerah Swatantra Tingkat II Banjarnegara. Wafat tahun 1980, dimakamkan di makam Bergota, Candilama Semarang.

VII)     1. Nama/Gelar          :  Mas Soejirno

2. Masa Jabatan        :  1960 – 1967

3. Riwayat singkat    : Lahir di Sokaraja Wetan tgl 15 Desember 1911. Pendidikan MULO tahun 1930.

VII)     1. Nama/Gelar          : Raden Soedibjo

2. Masa Jabatan        :  1967 – 1973

3. Riwayat singkat    : Lahir di Karangjambu Purwokerto tanggal 12 Maret 1923. Sebelumnya menjabat Komandan KODIM 0704

IX)      1. Nama/Gelar          : Drs. Soewadji

2. Masa Jabatan        :  1973 – 1980

3. Riwayat singkat    :  Pendidikan APDN Malang tahun 1952, Doktoral Sospol Universitas Negeri Yogyakarta tahun 1966. Sebelumnya menjabat Sekretaris Wilayah Daerah Kabupaten Dati II Magelang.

X)          1. Nama/Gelar          : Drs. Winarno Surya Adisubrata

2. Masa Jabatan        :  1980 – 1986

3. Riwayat                 : Lahir di Sala tanggal 14 Oktober 1936. Pendidikan APDN Malang tahun 1959, Doktoral Fakultas Sospol Universitas Hasanudin Makassar tahun 1963. Sebelumnya menjabat Bupati Demak.

XI)      1. Nama/Gelar          :  H. Endro Suwaryo

2. Masa Jabatan        :  1986 – 1991

3. Riwayat Singkat    :  Pendidikan Institut Pendidikan Guru (IPG) Tahun 1964. Sebelumnya menjabat Kepala Bidang Pendidikan Masyarakat Kanwil Depdikbud Propinsi Jawa Tengah.

XII)     1. Nama/Gelar          :  Drs. H. Nurachmad

2. Masa  Jabatan       :  1991 – 2001

3. Riwayat singkat    :  Lahir di Kendal, tanggal 3 Mei 1940, Pendidikan Fakultas Ekonomi UGM tahun 1970. Sebelumnya menjabat Sekretaris Wilayah Daerah Kabupaten Dati II Kendal.

XIII)    A.   1. Nama/Gelar          : Drs. Ir. H. Djasri, MM, MT

2. Jabatan                 : Bupati Banjarnegara

3. Masa Jabatan        :  2001 – 2006

4. Riwayat singkat    :  Lahir di Demak tanggal 2 Desember 1955. Riwayat pendidikan : IKIP Semarang (S1) tahun 1983, Teknik Sipil Unwiku Purwokerto (S1) tahun 1994, Magister Manajemen SDM Universitas Jenderal Soedirman (Pasca Sarjana) tahun 1999, Magister Teknik Universitas Diponegoro (Pasca Sarjana) tahun 2005. Sebelumnya pernah menjabat Kepala Dinas PU Kab. Banjarnegara dan Kepala Dinas Perhubungan dan Pariwisata Kab. Purbalingga.

B.   1. Nama/Gelar          :  Drs. H. Hadi Supeno, M.Si.

2. Jabatan                 :  Wakil Bupati Banjarnegara

3. Masa Jabatan        :  2001 – 2006

4. Riwayat singkat    :  Lahir di Banjarnegara tanggal 14 Aplil 1959. Pendidikan IKIP Yogyakarta (S1) tahun 1984, Magister Administrasi Publik UGM (Pasca Sarjana) tahun 2001. Sebelumnya menjabat Kasubdin Sekolah Lanjutan dan Menengah pada Dinas Pendidikan Kabupaten Magelang.

XIV)    A.   1. Nama/Gelar          : Drs. Ir. H. Djasri, MM, MT

2. Jabatan                 : Bupati Banjarnegara

3. Masa Jabatan        :  2006 – 20011

4. Riwayat singkat    :  Lahir di Demak tanggal 2 Desember 1955. Riwayat pendidikan : IKIP Semarang (S1) tahun 1983, Teknik Sipil Unwiku Purwokerto (S1) tahun 1994, Magister Manajemen SDM Universitas Jenderal Soedirman (Pasca Sarjana) tahun 1999, Magister Teknik Universitas Diponegoro (Pasca Sarjana) tahun 2005. Sebelumnya pernah menjabat Kepala Dinas PU Kab. Banjarnegara dan Kepala Dinas Perhubungan dan Pariwisata Kab. Purbalingga dan Bupati banjarnegara masa jabatan 2001-2006.

B.   1. Nama/Gelar          :  Drs. Soehardjo, MM

2. Jabatan                 :  Wakil Bupati Banjarnegara

3. Masa Jabatan        :  2006 – 2011

4. Riwayat singkat    :  Lahir di Banjarnegara tanggal 17 September 1956. Pendidikan APDN Semarang tahun 1981, Magister Managemen AUB (Pasca Sarjana) tahun 2006. Sebelumnya menjabat Kepala Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Banjarnegara.

dieng banjarnegara

Dieng, Wonosobo- Banjarnegara,  /08/2012.Bagi yang pernah ke Dieng dan menyempatkan diri berkunjung ke Desa Tertinggi di pulau Jawa yaitu desa Sembungan , tentunya pernah juga melihat telaga Cebong sembungan yang apabila dilihat dari puncak bukit Sunrise indahnya luar biasa dan sulit dicari tandingannya.
Telaga Cebong sendiri merupakan sebuah telaga yang bentuknya mirip Berudu, sehingga warga sekitar memberi nama dengan Telaga Cebong, Telaga ini dulunya pernah menggemparkan masyarakat disekitar Kabupaten Wonosobo,karena dipercaya terdapat ikan yang luar biasa besarnya,
Beberapa tahun lalu telaga cebong sempat direhabilitasi dengan pengerukan menggunakan alat berat untuk memperluas sisi-sisi telaga yang sudah tersedimentasi dan tumbuh gambut disekitarnya, pada proses ini ditemukan juga kayu-kayu dengan ukuran sangat besar didalamnya yang seharusnya dapat dijadikan bahan kajian dan pembelajaran bagi generasi sekarang, akan tetapi karena keserakahan akhirnya kayu ini dipotong-potong oleh pemborongnya untuk dijual sebagai kayu bakar, jenis kayu ini cukup langka untuk sekitar kawasan Dieng, warnanya hitam, kerasnya luar biasa, dan beratnya mirip besi, Pada waktu itu saya sempat marah-marah mengetahui ulah pemborong nakal tersebut, dan saya mengkomunikasikannya dengan kepala desa dan ketua BPD setempat sampai akhirnya sisa-sisa kayu yang dibawa tersebut akhirnya dibiarkan saja dan dipasang disekitar dermaga prahu.tapi yang terbawa sudah beberapa truk.
Disisi lain keberadaan telaga cebong beserta keunikan tersembunyi tersebut, masih jarang sekali yang mengetahui kalau ternyata di Sembungan ada 2 (dua)telaga, telaga yang satunya adalah telaga Wurung  yang berada di puncak gunung pakuwojo, tepat disekitar batu yang mirip dengan paku atau orang sekitar sering menyebutnya pakuwojo( paku baja).
Menurut penuturan kang Sagi( 40 th) dan ahmad irfan ( 39 th) warga sembungan,cerita yang berkembang dan dipercaya oleh warga desa sembungan, dulu pada proses pembangunan / pembuatan telaga tersebut merupakan sebuah lomba dari seorang bapak sakti yang memiliki dua anak laki-laki, lomba tersebut menjadi ajang persaingan antara kakak beradik untuk mengadu kesaktian masing-masing, kakaknya yang terkenal rajin bekerja dan sakti mandraguna, memilih posisi paling puncak dari Desa sembungan yaitu di sekitar pakuwojo, sedangkan adiknya yang pemalas memilih tempat yang lebih dekat yaitu dibawah sebelah barat bukit sikunir, waktu yang ditentukan telah tiba kedua kakak beradik tersebut Sudah mempersiapkan diri.
Pagi-pagi buta sebelum ayam berkokok sang kakak berangkat terlebih dahulu ke lokasi yang dipilih dan memulai pekerjaannya, sedangkan si adik yang pemalas masih tidur sampai matahari cukup terik muncul dari bukit Sikunir, sang adik terlihat sangat santai karena ternyata menyimpan sebuah rencana jahat terhadap pekerjaan kakaknya.dia yakin betul pasti akan memenangkan perlombaan.

Matahari semakin condong ke barat, pertanda waktu semakin sore, pekerjaan sang kakak hampir selesai, bahkan airnya yang tersimpan dari akar-akar pohon disekitar Pakuwojo mulai mengalir, sampai akhirnya hampir memenuhi kubangan / telaga yang dia buat. sementara sang adik tampaknya belum bisa sepenuhnya menyelesaikan pekerjaannya, lokasi yang ada disebelah selatan belum tergarap juga bahkan dari bentuknya mirip berudu, dia tidak juga memperhatikan darimana airnya akan dia dapatkan, disela-sela pekerjaannya sang adik mulai melancarkan niat jahatnya , dengan cara naik ke puncak pakuwojo, dan menemui kakaknya, dia mengatakan bahwa kakaknya lah yang menang, dan sebagai hadiah bapaknya sudah mempersiapkan hidangan daging ayam yang sangat lezat dan akan mempertemukan dengan calon istri yang cantik jelita,

Percaya dengan kabar dari adiknya , sang kakak bergegas pulang menuju rumahnya dengan hati yang berbunga-bunga karena dalam benaknya sudah tergambar hadiah apa yang akan dia terima.
Melihat situasi yang bagus tersebut mulailah sang adik melancarkan rencananya dengan cara membobol telaga buatan kakaknya agar airnya mengalir ke telaga yang dia bangun, dan ternyata berhasil dengan sangat sukses. Telaga yang dibangun kakaknya kering dalam waktu yang tidak terlalu lama dan telaga yang dia bangun sekarang sudah berisi air bahkan meluap sampai tepian telaga.
Malam itu sang adik tidak pulang kerumah, tapi tetap berada di pinggir telaga yang dia bangun dalam keadaan seperti orang sedang bersemedi ,sampai keesokan harinya bapaknya mencari kepinggir telaga dan menyatakanbahwa pemenang dari lomba tersebut adalah sang adik yang berhak mendapat hadiah pernikahan dengan Calon istri yang cantik jelita.
Sampai sekarang telaga yang dibangun oleh sang kakak tetap mengering dan penduduk sekitar memberi nama dengan sebutan telaga Wurung ( telaga yang tidak jadi), dan dibagian atas dekat dengan pakuwojo terdapat goa pertapaan yang sampai hari ini setiap tahun dikunjungi oleh sesepuh Dieng untuk melakukan Ritual .
Ternyata di Sembungan ada dua telaga, ini hanya cerita dari mulut kemulut yang dipercaya oleh warga setempat, benar atau tidaknya sulit untuk dilacak, yang jelas moral cerita ini cukup bisa dijadikan sebagai bahan pemikiran tentang sebuah persaingan, kekeluargaan, konstruksi bangunan, cara untuk mencapai sebuah tujuan dll.